banner 728x250

Desa Tegowanu Wetan – Tegowanu Gelar Ritual Penjamasan Pusaka Bende Peninggalan Nyai Arum Dayang Tegowanu Wetan Di Sedekah Bumi/Apitan

banner 468x60

GROBOGAN, Faktakuat.com – Warga Masyarakat Desa Tegowanu Wetan Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menggelar tradisi tahunan yakni Sedekah Bumi atau Apitan dengan Ritual Penjamasan Benda Pusaka berupa Bende Nyai Arum Dayang Tegowanu wetan dan pagelaran wayang kulit sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan yang telah diterima sepanjang tahun.

Rangkaian acara berlangsung Pada hari Minggu Legi tanggal (19/04/2026) dimulai pukul 12.00.wib siang hingga malam hari. Lokasi kegiatan dipusatkan di kediaman Kepala Desa Tegowanu Wetan Muhammad Parjono.
Dalam tradisi ini pagelaran wayang kulit digelar dua kali, yaitu pada siang hingga sore hari, dan dilanjutkan semalam suntuk.

Example 300x600

Tradisi Apitan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Tegowanu Wetan secara turun-temurun. Sebelum pagelaran dimulai, dilaksanakan ritual doa bersama dan kenduri atau bancaan yang diikuti Kepala Desa Tegowanu Wetan Muhammad Parjono bersama perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.
Dalam prosesi ini, Kepala Desa Tegowanu Wetan Muhammad Parjono bersama para Pamong Desa melakukan Penjamasan (Mencuci) benda Pusaka berupa Bende Peninggalan Nyai Arum Dayang Tegowanu Wetan sebagai simbol wujud Syukur masyarakat di berikan rezeki yg melimpah makmur sandang pangan dan di jauhkan dari mara bahaya, penyakit, berharapan agar roda pemerintahan juga berjalan lancar, aman, dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian wujud Syukur dari keluarga Kepala Desa memberikan sedekah uang untuk anak-anak , Tradisi ini adalah bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan dan penghormatan kepada leluhur desa yang telah mewariskan nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan,” ujar Muhammad Parjono di sela kegiatan.
Sedekah Bumi atau Apitan merupakan ritual adat yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Istilah “apitan” sendiri diyakini berasal dari kata apit yang bermakna ‘jepitan’, merujuk pada bentuk fisik wayang kulit yang dijepit oleh garan (tangkai dari bambu atau tanduk kerbau) saat dipentaskan.

“Pagelaran wayang kulit menjadi elemen penting dalam tradisi ini karena bukan hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan spiritual kepada masyarakat,” kata Muhammad Parjono.

Pada siang hari, lakon yang dipentaskan adalah ”Sri Bali” oleh dalang Ki Kadus Karyo dari Tegowanu Wetan. Sementara pada malam harinya, pertunjukan dilanjutkan dengan lakon “SIRNANING RAJAMALA” yang dibawakan oleh dalang Ki Anom Dwijo Kangko,S.Sn dari Karanganyar – Solo.

Wayang kulit tetap menjadi seni pertunjukan yang relevan di berbagai kalangan usia. Selain sebagai hiburan, pementasan wayang juga menjadi sarana penyampaian nilai-nilai kehidupan, kejujuran, dan keteguhan moral yang dikisahkan melalui tokoh-tokoh pewayangan.

Acara tersebut juga menjadi momen kebersamaan antar warga. Ratusan warga dari berbagai dusun di Desa
Tegowanu wetan berkumpul di sekitar lokasi pertunjukan. Sejumlah tokoh masyarakat, pemuka agama, ketua RT dan RW, serta perangkat desa turut menghadiri acara tersebut.

“Budaya tradisi seperti ini perlu kita lestarikan bersama. Selain untuk mempererat silaturahmi, ini juga bentuk edukasi budaya bagi generasi muda,” ujar Kepala Desa.

Muhammad Parjono berharap tradisi Sedekah Bumi terus dijaga oleh masyarakat sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang memiliki nilai luhur. Ia menambahkan, di tengah perkembangan zaman yang kian cepat, upaya pelestarian budaya seperti ini perlu mendapat dukungan dari semua pihak,” Pungkasnya.

(BANU ABILOWO)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *