banner 728x250

Tanggul Sungai Tuntang Jebol di Demak, Warga Sempat Bertahan dengan 300 Karung Pasir, Puluhan Rumah Hancur

banner 468x60

Demak, 5 April 2026 – Bencana jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, menyisakan duka mendalam bagi warga. Meski telah berupaya keras menahan luapan air, tanggul akhirnya runtuh dan menyebabkan puluhan rumah rusak hingga hanyut.


Warga setempat sebenarnya telah melakukan langkah darurat sejak pagi hari saat air mulai melimpas. Dengan peralatan seadanya, mereka bergotong royong meninggikan tanggul menggunakan karung berisi tanah dan pasir.

Example 300x600


Salah satu warga, Ismono (RT 1 RW 5 Dusun Selondoko), mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengambil ratusan karung kosong dari kantor BPBD untuk membantu penanganan.


“Awalnya hanya limpas seperti biasa, tidak pernah jebol. Jadi warga berjibaku meninggikan tanggul untuk antisipasi saja,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).


Ia menyebut sekitar 300 karung berhasil diisi dan ditumpuk secara manual oleh warga. Namun derasnya debit air membuat tanggul tak mampu bertahan lama.


Setelah sempat kembali ke rumah untuk mengamankan barang, Ismono mendengar teriakan warga bahwa tanggul telah jebol.


“Tiba-tiba ada teriakan ‘jebol, jebol!’, semua langsung lari menyelamatkan diri,” katanya.


Akibat kejadian tersebut, sedikitnya 13 rumah mengalami rusak berat, 9 rumah hanyut, dan 6 lainnya rusak ringan. Ismono sendiri kini harus mengungsi dan tinggal sementara di rumah kerabat.


Warga terdampak kini sangat membutuhkan bantuan, terutama makanan, pakaian layak pakai, dan air bersih.


“Saat banjir saya cuma bawa satu pakaian. Bahkan baju yang saya pakai sekarang pun hasil minta,” tambahnya.


Sebelumnya, tanggul Sungai Tuntang dilaporkan jebol pada Jumat (3/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB di tiga titik, yakni dua titik di Desa Trimulyo dan satu titik di Desa Sidoharjo.


Perangkat Desa Trimulyo, Rofiq, menjelaskan bahwa tingginya debit air akibat hujan deras di wilayah hulu, khususnya daerah Kedungjati, Kabupaten Grobogan, menjadi faktor utama penyebab jebolnya tanggul.


“Kalau hujan di atas, air pasti lari ke Sungai Tuntang dan itu yang paling berdampak di sini,” jelasnya.


Lebar tanggul yang jebol bervariasi, mulai dari 10 hingga 15 meter, sehingga menyebabkan air dengan cepat menggenangi permukiman warga hingga setinggi satu meter.


Hingga kini, warga masih bertahan di tengah keterbatasan sambil menunggu bantuan dan penanganan lebih lanjut dari pemerintah.

Pewarta : Tim / Red

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *