banner 728x250

Gelar Wayang Kulit Juga Ritual Unik & Sakral Meriahkan Sedekah Bumi/Apitan Di Desa Tegowanu Kulon

banner 468x60

GROBOGAN, Faktakuat.com – Pemerintah Desa bersama Warga masyarakat Desa Tegowanu Kulon, Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan menggelar Pagelaran wayang kulit , Pengajian dan ritual unik juga pembagian berkah uang pada anak anak dan pembagian door prize istimewa dalam rangka Sedekah Bumi di halaman kediaman kepala Desa Tegowanu Kulon, Pada hari Jum’at Pahing tanggal (15/05/2026) pukul 09.30 wib.

Mengusung tema “Merawat Tradisi, Mempererat Harmoni, Menjemput Berkah Illahi”, kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian tradisi Sedekah bumi/ Apitan yang rutin digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT.

Example 300x600

Kepala Desa Tegowanu Kulon Broto Susilo menyampaikan bahwa,”Sedekah bumi merupakan wujud syukur atas karunia, rezeki, kesehatan, dan berbagai nikmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada masyarakat,” ujarnya.

Broto Susilo menegaskan, Pagelaran wayang kulit juga menjadi salah satu upaya melestarikan budaya lokal yang diwariskan para leluhur. Wayang kulit, kata Broto Susilo, merupakan warisan budaya tak benda yang telah diakui UNESCO sehingga menjadi kewajiban bersama untuk terus menjaga dan melestarikannya.

“Di tengah kemajuan teknologi saat ini, generasi muda sangat mudah mengakses budaya asing yang belum tentu sesuai dengan adat ketimuran kita. Karena itu, wayang kulit harus terus dijaga agar tidak punah,” tandasnya.

Broto Susilo menyebut, setiap lakon yang dibawakan dalang mengandung pesan filosofis dan nilai-nilai luhur yang baik untuk kehidupan masyarakat Indonesia.

Melalui cerita pewayangan, masyarakat diajak memahami nilai kebersamaan, kebijaksanaan, hingga pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial.

“Selain sebagai hiburan rakyat, kegiatan sedekah desa juga diharapkan mampu mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan masyarakat,” ungkap Broto Susilo.

Sedekah bumi/Apitan sebagai ikhtiar masyarakat Desa Tegowanu Kulon dan doa serta rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah ditahun lalu. Juga harapan semoga ditahun ini terhindar dari musibah dan marabahaya serta diberikan hasil bumi yang melimpah pula,” Ungkapnya.

Di jelaskan oleh Broto Susilo,” Pemerintah Desa Tegowanu Kulon membuat Gunungan mengusung berbagai hasil bumi atau hasil pertanian, seperti padi dan sayur-sayuran dan hasil bumi itu ditata sedemikian rupa, membentuk gunungan yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang melimpah kemudian di perebutkan oleh warga masyarakat,itu merupakan ritual yang dinamakan kebersamaan,” Terangnya.

Pada Sedekah bumi tersebut, terdapat momen simbolis yang menarik, yaitu “Momong Perangkat” Kapala Desa Broto Susilo dengan membawa pecut. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol bahwa para aparat desa harus bekerja dalam satu komando, siap siaga, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Kita harus sejalan dalam visi, misi, dan tujuan untuk Desa Tegowanu Kulon” ungkap Broto Susilo.

Ia menyampaikan, bahwa Tradisi ini sudah berlangsung sejak sebelum kepala desa saat ini
Momen kepala Desa Tegowanu Kulon Broto Susilo membawa pecut sebagai bentuk simbolis tradisi momong perangkat pada acara Sedekah bumi /Apitan.

“Intinya, kita sebagai pelayan masyarakat harus siap membantu dan menjadi tangan panjang masyarakat,” tandasnya.

Ditambahkan Broto Susilo,Tradisi Sedekah Bumi /Apitan tersebut diidentikan dengan pagelaran wayang kulit siang & semalam suntuk seperti di Desa Tegowanu Kulon.

“Pagelaran wayang kulit mengangkat lakon ”Sri Bali” untuk siang hari dan ”Wahyu Senopati” lakon untuk malam hari dibawakan oleh dalang Ki H Warjito Kliwir dari Boyolali Solo.

“Pagelaran wayang kulit merupakan sebuah kesenian yang dapat dinikmati oleh semua umur. Tidak hanya sebagai sebuah kesenian semata, tetapi juga sebagai suatu hiburan juga Untuk nguri – uri budaya Adi luhung agar tidak punah,” Pungkasnya.

Acara Sedekah Bumi /Apitan Di Desa Tegowanu Kulon di mulai dengan Pengajian ,membagi berkah dengan memberikan sedekah berupa uang kepada Anak anak kemudian dilanjutkan dengan ritual Kepala Desa Broto Susilo memukul kentongan untuk mengumpulkan Pamongnya yakni Perangkat Desa , BPD,Linmas dan TP PKK, Bhabinkamtibmas dan Babhinsa, tokoh masyarakat serta Tokoh Agama juga warga masyarakat untuk menggelar ritual, doa dan Selamatan (bancaan) warga masyarakat menyaksikan Kepala Desa Broto Susilo membawa Pecut sebagai bentuk simbolis tradisi momong perangkat sehingga perangkat desa di pecut merupakan simbul bahwa para perangkat desa harus bekerja dalam satu komando siap siaga dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Acara untuk Pagelaran wayang kulit nanti malam akan di hadiri oleh Bupati Grobogan Setyo Hadi beserta rombongan dan Camat Tegowanu Slamet Sanyoto, S.H,M.M., bersama Forkopimcam Tegowanu.
dan pembagian door prize dari Kepala Desa Broto Susilo berupa Sepeda dan banyak lagi kepada warganya.

(Reporter: BANU ABILOWO)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *