banner 728x250

Perhutani BKPH Manggar – KPH Semarang Hadiri Ritual Kuras Sendang & Pagelaran Tayub Di Sedekah Bumi Bersama Masyarakat Desa Penadaran – Gubug

banner 468x60

GROBOGAN, Faktakuat.com – Perum Perhutani BKPH Manggar KPH Semarang Hadiri Acara sedekah bumi/Apitan bersama dengan Pemerintah Desa Penadaran &
Masyarakat Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan melakukan ritual Kuras (Bersih – bersih) Sendang Sumber, Kegiatan tersebut digelar setiap tahun dibulan Apit dengan melakukan pembersihan dan pengurasan Sendang Sumber yang terletak di wilayah hutan KPS (Kawasan Perlindungan Setempat) Petak 138 RPH Bantengan BKPH Manggar KPH Semarang, Pada hari Kamis Legi tanggal (14/05/2026) yang dimulai pukul 08.00 wib pagi.

Dalam Kegiatan Sedekah Bumi Apitan didesa Penadaran Awak Media Faktakuat.com akan menceritakan tentang Ritual sakralnya Apitan Sedekah bumi tersebut.
Dalam ritual bersih – bersih (Kuras) Sendang Sumber Warga masyarakat Desa Penadaran tanpa canggung menceburkan diri dalam sendang tersebut.
Dengan semangat mereka membersihkan dan menguras Sendang Sumber itu secara bergotong royong.
Pembersihan sendang dimaksudkan untuk menjaga sendang tetap lestari mengingat sendang Sumber tersebut merupakan sumber mata air di Desa tersebut. Dengan pembersihan sendang, air Sendang Sumber tetap mengalir dan bersih terus menerus.

Example 300x600

Usai membersihkan Sendang Sumber masyarakat Desa Penadaran melakukan selamatan dengan mengadakan doa bersama dan pergelaran tayub.

Untuk ritual sakral prosesi digelar tayub pada awalnya dimulai pada tengah-tengah Desa berlokasi dekat tanah bengkok.

Dalam pembukaan acara tersebut, para perangkat desa ikut menari bersama para penari tayub dengan memakai sampur/Selendang.
Pergelaran tayub hanya beberapa tembang kemudian dilanjutkan dikediaman Kepala Desa.

Tiga penari tayub melenggak – lenggok sambil melantunkan tembang,para Perangkat Desa pun ikut menari kembali. Usai para Perangkat Desa menari, ibu-ibu desa pun tak ketinggalan. Mereka ikut menari dengan semangat dengan mengenakan kain sampur/ Selendang.

Dalam acara itu, para ibu dan kaum perempuan membawa nasi dan ayam panggang  beserta uba rampainya. Ayam panggang tersebut kemudian dipotong menjadi  dua. Satu bagian untuk makanan bagi orang-orang yang mengikuti rangkaian  acara, satu bagian yang lain untuk dibawa dan dimakan di rumah setelah didoakan dalam acara itu.


Salah seorang tokoh masyarakat adat Desa Penadaran menjelaskan, kalau acara  tahunan itu sudah berlangsung sejak lama. Acara tahunan tersebut  diselenggarakan setiap bulan Apit, sedangkan tanggalnya disesuaikan dengan  hari dan tanggal sesuai kalender Jawa pemilihan kepala desa itu,” Ungkapnya.

Dia berharap kalau acara tahunan itu tetap bisa dilaksanakan. “Budaya  semakin lestari,” harapnya. Dia juga berharap, kaum muda desa tersebut bisa  meneruskan tradisi tersebut.

Acara masih dilanjutkan pula dengan ritual yang menarik dalam acara selamatan dan syukuran di saksikan oleh wargnya Perangkat desa dipimpin oleh Kepala Desa Sholekatu Ridhol S.E ,M.H., mengitari rumahnya tiga kali dengan membawa alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, dan alat pertanian dan juga sebuah bende yg secara simbolis itu peninggalan atau warisan dari leluhurnya.

Terlihat seseorang yang berjalan paling belakang dari rombongan itu menebar minuman dawet. Biasanya dulu, petani di ladang minum dawet pada waktu istirahatnya.

Warga masyarakat Desa Penadaran menyiapkan uba rampai dan
Seorang modin memimpin doa pada siang hari itu. Ia berdoa untuk kemakmuran, kelestarian Desa, keberhasilan panen dan kesejahteraan bagi warga desa. Sebelum berdoa ayam panggang dan uba rampainya dikumpulkan terlebih dahulu. Usai berdoa, ayam panggang dan uba rampainya dibungkus kembali dan dibawa pulang untuk disantap bersama keluarga.
Warga dari berbagai latar belakang hadir dan Semua berkumpul dengan guyub dan gembira.

Kepala Desa Penadaran Sholehatu Ridlo, S.E,M.H., menyampaikan bahwa,” Kegiatan Apitan/sedekah bumi dimaksudkan supaya masyarakat bisa selamat dan ini merupakan wujud syukur warga masyarakat Desa Penadaran kepada Alloh SWT, hasil bumi bisa makmur gemah Ripah loh jinawi, termasuk bumi juga makin dicintai karena tempat untuk kehidupan.
Sholehatu Ridlo S.E,M.H., juga berharap anak-anak muda atau generasi penerus di Desa Penadaran akan meneruskan tradisi dari leluhur.

“Beberapa waktu baru saja panen jagung, maka kita bersyukur atas hasil panen tersebut dan Kita juga berharap bumi bisa memberikan panenan yang baik secara terus-menerus,” Tutupnya.”


Sementara itu
Administratur/KKPH Semarang Misa Ekaristi melalui Hadis Kepala BKPH Manggar didampingi Mantri/KRPH Bantengan Ahmad Muslih menyampaikan bahwa,” Perhutani sangat mendukung kegiatan semacam ini karena selain menjaga nilai-nilai budaya, juga mempererat hubungan antara Perhutani dan masyarakat sekitar hutan.

“Perhutani berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan tugas Perhutani di lapangan. Tradisi Apitan /Sedekah Bumi juga merupakan bentuk ekspresi rasa syukur atas rahmat dan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap Hadis.

Asper/KBKPH Manggar Hadis juga menambahkan bahwa, kehadiran Perhutani merupakan komitmen untuk terus membangun komunikasi dan membina harmonisasi dengan masyarakat desa hutan.


“Perhutani menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyelenggarakan acara tersebut, khususnya Oooo Pemerintah Desa Penadaran juga masyarakat desa. Semoga kerja sama ini dapat terus terjalin dan memberikan manfaat bagi kita semua,” Pungkasnya

(Reporter:BANU ABILOWO)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *