Semarang, Faktakuat.com 22 Agustus 2026 – Di tengah riuh rendah suara demonstrasi yang kerap menggema di sepanjang jalan-jalan ibu kota, di mana kata-kata lantang bersaing paling keras namun seringkali tak menyentuh kehidupan nyata, ada langkah yang jauh lebih berani, jauh lebih bermakna, dan jauh lebih menggema di hati seluruh rakyat Indonesia. Dari ujung timur negeri, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, datanglah sebuah cahaya harapan yang sungguh menghangatkan dada: perwakilan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia hadir langsung, bukan untuk berorasi di atas panggung, melainkan untuk berlutut menemani saudara-saudari kita yang sedang jatuh dan terluka.
Pada 20–21 Agustus 2026, di lokasi pengungsian Kabupaten Sikka dan Manggarai, mereka membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak butuh spanduk raksasa, tidak butuh sorak-sorai, dan tidak butuh teriakan yang memecah langit. Yang mereka bawa hanyalah keilmuan yang tulus, hati yang penuh kasih, dan tangan yang siap menolong. Di sana, di tengah reruntuhan dan kesedihan, mereka melaksanakan program trauma healing memulihkan jiwa anak-anak korban gempa yang sempat terguncang hingga ke titik paling dalam. Mereka mendengarkan keluh kesah yang tak sempat terucap, memeluk harapan yang sempat patah, dan menuntun jiwa-jiwa kecil kembali menuju cahaya harapan. Memberikan pertolongan pertama pada jiwa yang terluka inilah perjuangan yang paling mulia, perjuangan yang tak kalah hebat dari perjuangan mana pun di muka bumi ini.
Wisnu alias Roger: Berjuang itu melayani, bukan berteriak! Satukan hati, satukan tangan — di sinilah kekuatan kita yang sesungguhnya!
Menyikapi langkah mulia yang sungguh menggetarkan hati seluruh bangsa ini, Wisnu alias Roger, wartawan yang senantiasa vokal, kritis, dan teguh membela kepentingan rakyat kecil, menyampaikan pesan yang tajam, tegas, sekaligus membara penuh semangat persatuan:
“Cukup sudah kata-kata yang indah namun kosong! Cukup sudah teriakan yang bising namun tak memberi makan siapa pun! Saat bencana menimpa saudara kita, rakyat tidak butuh orasi — rakyat butuh uluran tangan! Rakyat tidak butuh tuduhan rakyat butuh pelukan! Jika benar kalian mengatasnamakan perjuangan untuk seluruh rakyat Indonesia, maka saat saudara-saudari kita tertimpa musibah, di sanalah kalian harus berdiri bukan di jalanan berteriak lantang, melainkan di lokasi bencana, di pengungsian, di tempat yang membutuhkan tenaga, pikiran, dan hati kalian!”
“Mari kita gunakan akal sehat dan hati nurani yang diberikan Tuhan! Jangan biarkan perbedaan pendapat memisahkan kita, jangan biarkan perbedaan cara memecah belah kita. Kita adalah satu bangsa, satu darah, satu nasib! Saat saudara kita terluka di ujung timur, di ujung barat, di mana pun di tanah air itu adalah luka kita semua! Mari kita berhenti saling serang, berhenti saling melemahkan, dan mulai bersatu dengan segenap jiwa raga! Ayo gaspol bergerak, bukan gaspol berteriak! Buktikan cinta pada negeri dengan karya nyata, bukan dengan kata-kata manis semata! Karena rakyat tidak butuh janji rakyat butuh bukti! Dan bukti itu bernama: KITA BERSATU!”
“Semangatlah, wahai pemuda Indonesia! Semangatlah, seluruh elemen bangsa! Mari kita ciptakan persatuan yang luar biasa, persatuan yang tak tergoyahkan, persatuan yang membuat musuh gemetar dan negeri ini bangkit! Karena jika kita bersatu tidak ada yang mustahil! Tidak ada bencana yang tak bisa kita hadapi! Tidak ada kesulitan yang tak bisa kita atasi! Inilah Indonesia kita saling menguatkan, kita saling mengasihi, dan kita bangkit bersama!”
Makna mendalam sebuah langkah nyata: ilmu yang menolong adalah ilmu yang sesungguhnya, persatuan yang bekerja adalah persatuan yang abadi!
Tindakan para mahasiswa Psikologi UI ini bukan sekadar kegiatan pengabdian biasa ia adalah cermin nyata dari apa yang disebut intelektualitas yang berhati, dan persatuan yang berjiwa. Ia mengingatkan kita semua: ilmu pengetahuan tidak berharga jika hanya disimpan di ruang kuliah atau dijadikan bahan orasi. Ilmu menjadi mulia ketika ia menjadi penawar luka, menjadi penghibur yang tulus, menjadi jembatan harapan bagi mereka yang putus asa. Dan persatuan tidak berarti hanya diucapkan di atas mimbar persatuan sejati terwujud ketika kita berlari menolong satu sama lain di saat yang paling sulit.
Di saat banyak suara bersaing untuk terdengar paling lantang, kehadiran yang tenang, tulus, dan penuh karya nyata justru paling menggema di hati rakyat. Di saat banyak yang sibuk mencari perhatian, mereka justru sibuk memberi perhatian kepada mereka yang membutuhkannya. Semoga langkah ini menjadi cahaya yang menuntun seluruh bangsa: jika benar berjuang untuk rakyat, hadirlah di mana rakyat terluka. Jika benar mencintai negeri, cintailah dengan melayani, bukan dengan menuntut. Dan jika benar menginginkan Indonesia yang maju maka bersatulah, bekerjalah, dan bangkitlah bersama-sama!
Semoga semakin banyak elemen bangsa yang tergerak mahasiswa, kelompok masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan seluruh pihak yang menyatakan berjuang untuk rakyat agar ke depannya, di setiap bencana, di setiap penderitaan, yang tampak pertama kali bukanlah keributan, melainkan lautan uluran tangan, lautan kasih sayang, dan lautan persaudaraan yang tak terpisahkan. Karena itulah hakikat keindonesiaan: kita berbeda warna kulit, berbeda suku, berbeda bahasa tetapi kita memiliki satu hati, satu tujuan, satu harapan: Indonesia yang damai, bersatu, dan makmur untuk selamanya!
Pewarta : Rogers













