Semarang, 6 Agustus 2026 – Di tengah derasnya arus informasi digital yang bergerak tanpa batas, tantangan aparatur negara tidak hanya dituntut profesional dalam menjalankan tugas, tetapi juga memiliki integritas moral, kecerdasan spiritual, serta kebijaksanaan dalam berkomunikasi. Kemajuan teknologi yang memudahkan setiap orang menyampaikan informasi dalam hitungan detik juga menghadirkan ancaman berupa maraknya ghibah, fitnah, ujaran kebencian, hingga penyebaran berita bohong (hoaks) yang dapat merusak hubungan antarsesama, menurunkan kepercayaan publik, bahkan mengganggu kinerja organisasi.
Berangkat dari pentingnya membangun karakter aparatur yang berakhlak, berintegritas, dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah secara konsisten menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) sebagai bagian dari penguatan budaya kerja organisasi.
Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an secara bersama-sama yang diikuti oleh seluruh peserta sebagai bentuk ikhtiar menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus mempersiapkan hati dan pikiran agar lebih khusyuk dalam mengikuti pembinaan rohani. Suasana yang penuh kekhusyukan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan spiritual merupakan fondasi penting dalam membangun integritas pribadi maupun organisasi.
Selanjutnya, kegiatan Binrohtal yang berlangsung di Musholla An-Nur BNN Provinsi Jawa Tengah, Kamis (6/8/2026), menghadirkan langsung Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah, Brigjen Pol. Dr. H. Agus Rohmat, S.I.K., S.H., M.Hum., sebagai penceramah utama. Kegiatan tersebut diikuti oleh 107 peserta yang terdiri atas pejabat struktural, pegawai ASN, Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN), serta mahasiswa magang yang sedang melaksanakan praktik kerja di lingkungan BNNP Jawa Tengah. Kehadiran seluruh unsur organisasi tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam membangun karakter, integritas, dan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi pelaksanaan tugas organisasi.
Dalam ceramahnya yang mengangkat tema “Bahaya Ghibah dan Berita Bohong di Era Digital”, Brigjen Pol. Agus Rohmat menegaskan bahwa pembinaan spiritual bukan sekadar agenda rutin keagamaan, melainkan bagian dari investasi organisasi dalam membentuk sumber daya manusia yang berintegritas, memiliki etika, serta mampu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi.
Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari capaian program dan target kinerja, tetapi juga ditentukan oleh kualitas moral serta karakter setiap individu yang menjalankan amanah. Aparatur yang mampu menjaga tutur kata, menjunjung etika, dan bijak menggunakan media sosial akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat, harmonis, produktif, serta bebas dari konflik yang tidak perlu.
“Di zaman sekarang, makna lisan tidak hanya apa yang keluar dari mulut, tetapi juga apa yang keluar dari jempol kita di media sosial. Setiap tulisan, komentar, maupun pesan yang kita bagikan merupakan cerminan akhlak dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karena itu, biasakan hanya menyampaikan yang benar, bermanfaat, dan baik. Jika tidak, lebih baik diam,” tegas Brigjen Pol. Agus Rohmat.
Ia menjelaskan bahwa salah satu penyakit sosial yang paling sering terjadi adalah ghibah atau membicarakan keburukan orang lain. Perbuatan tersebut sering kali dianggap sepele, padahal memiliki dampak besar terhadap rusaknya hubungan persaudaraan, menurunnya kepercayaan antarrekan kerja, hingga hilangnya keberkahan dalam kehidupan.
Selain ghibah, Kepala BNNP Jawa Tengah juga menyoroti bahaya penyebaran berita bohong yang semakin masif di era digital. Menurutnya, hanya dengan satu kali menekan tombol “bagikan”, informasi yang belum tentu benar dapat menyebar kepada ribuan orang dan menimbulkan dampak yang luas.
Oleh karena itu, ia mengingatkan seluruh pegawai untuk senantiasa menerapkan prinsip tabayyun atau melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan suatu informasi, sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an. Sikap kritis dan kehati-hatian tersebut dinilai menjadi bagian penting dari profesionalisme aparatur negara yang harus mampu menjadi contoh dalam penggunaan media digital secara bertanggung jawab.
Lebih lanjut, Brigjen Pol. Agus Rohmat membagikan tiga langkah sederhana untuk menjaga diri dari ghibah dan hoaks, yaitu menerapkan prinsip BMB (Benar, Manfaat, Baik) sebelum berbicara maupun membagikan informasi, mengalihkan pembicaraan ketika mulai mengarah pada pembahasan aib orang lain, serta menyibukkan diri dengan zikir dan aktivitas positif agar lisan maupun jempol senantiasa digunakan untuk kebaikan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya penting dalam kehidupan pribadi, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun budaya kerja BNNP Jawa Tengah yang berintegritas, saling menghormati, serta mampu bekerja secara kolaboratif dalam mewujudkan organisasi yang semakin profesional dan dipercaya masyarakat.
“Kita semua adalah wajah institusi. Apa yang kita ucapkan, tuliskan, dan sebarkan akan memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap BNN. Karena itu, mari kita jadikan pembinaan rohani sebagai sarana memperkuat integritas, mempererat ukhuwah, dan meningkatkan semangat pengabdian sehingga berdampak nyata pada kualitas pelayanan dan kinerja organisasi,” tambah Brigjen Pol. Agus Rohmat.
Salah seorang peserta Binrohtal, Samsul Ma’arif, mengaku memperoleh banyak pelajaran dari materi yang disampaikan Kepala BNNP Jawa Tengah. Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan kehidupan saat ini, khususnya bagi aparatur sipil negara yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat maupun media digital.
“Materi yang disampaikan sangat mengena dengan kehidupan sehari-hari. Kami diingatkan bahwa menjaga lisan dan jempol merupakan bagian dari menjaga amanah sebagai ASN. Kegiatan seperti ini tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga membangun semangat kebersamaan, etika kerja, dan rasa tanggung jawab sehingga kami dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkap Samsul Ma’arif.
Melalui pelaksanaan Binrohtal secara rutin setiap pekan, BNNP Jawa Tengah terus memperkuat pembinaan mental, spiritual, dan karakter seluruh pegawai sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Pembinaan tersebut diharapkan mampu melahirkan insan BNN yang tidak hanya unggul dalam kompetensi dan kinerja, tetapi juga memiliki akhlak mulia, integritas tinggi, serta mampu menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan semangat tersebut, BNNP Jawa Tengah optimistis bahwa penguatan nilai-nilai spiritual akan berkontribusi positif terhadap terciptanya lingkungan kerja yang harmonis, produktif, bebas dari perilaku negatif, serta semakin mendukung pencapaian tujuan organisasi dalam melaksanakan tugas Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) secara optimal demi mewujudkan Jawa Tengah Bersih Narkoba.
Pewarta : Rogers













