SEMARANG,FAKTAKUAT.com – Aktivitas di Terminal Penggaron, Kota Semarang, Jawa Tengah, terpantau lengang. Hampir tidak terlihat bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang masuk dan menaikkan maupun menurunkan penumpang di terminal tersebut.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya publik terkait fungsi dan efektivitas operasional terminal yang berada di wilayah timur Kota Semarang tersebut.
Dibangun untuk Penataan Transportasi
Terminal Penggaron dibangun oleh Pemerintah Kota Semarang pada awal dekade 2000-an sebagai bagian dari penataan sistem transportasi darat dan pemerataan simpul angkutan umum di wilayah kota. Kehadirannya dimaksudkan untuk mendukung distribusi penumpang dari arah timur Semarang dan kawasan perbatasan Kabupaten Demak serta Grobogan.
Saat itu, pembangunan terminal diharapkan dapat mengurangi kepadatan di terminal utama dan menata pergerakan bus agar tidak menumpuk di pusat kota.
Sebagaimana diketahui, terminal tipe A di Semarang yang menjadi pusat layanan AKAP adalah Terminal Terboyo (yang sebelumnya aktif) dan kini digantikan operasionalnya oleh Terminal Mangkang di wilayah barat kota.
Minimnya Bus AKAP Masuk
Namun dalam praktiknya, bus AKAP tidak menjadikan Terminal Penggaron sebagai titik masuk utama. Sejumlah faktor diduga menjadi penyebab, antara lain.
Penetapan trayek resmi
Berdasarkan regulasi perhubungan, bus AKAP wajib masuk ke terminal tipe A yang dikelola pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan. Jika Terminal Penggaron tidak berstatus tipe A, maka operator bus tidak diwajibkan masuk ke terminal tersebut.
Efisiensi operasional
Operator bus cenderung memilih terminal yang memiliki arus penumpang tinggi dan fasilitas lengkap agar biaya operasional tetap efisien.
Perubahan kebijakan transportasi
Setelah pengelolaan terminal tipe A dialihkan ke pemerintah pusat, terjadi konsolidasi layanan di terminal utama sehingga terminal lain menjadi kurang optimal.
Preferensi penumpang
Banyak penumpang memilih naik dari pool bus atau titik jemput di pinggir jalan karena dianggap lebih praktis.
Dampak bagi Masyarakat
Sepinya aktivitas di Terminal Penggaron berdampak pada menurunnya perputaran ekonomi pedagang kecil di sekitar terminal. Selain itu, kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas investasi infrastruktur yang telah dibangun dengan anggaran daerah.
Pengamat transportasi menilai, perlu ada evaluasi menyeluruh terkait fungsi terminal, termasuk kemungkinan alih fungsi atau penguatan peran sebagai terminal pengumpan (feeder) angkutan dalam kota dan antarkabupaten.
Perlu Evaluasi dan Penataan Ulang
Secara regulatif, terminal dibagi menjadi tipe A, B, dan C berdasarkan cakupan layanannya. Terminal tipe A melayani AKAP dan dikelola pemerintah pusat, tipe B melayani AKDP dan dalam provinsi, sementara tipe C melayani angkutan pedesaan atau kota.
Jika Terminal Penggaron bukan terminal tipe A, maka wajar apabila bus AKAP tidak masuk karena tidak sesuai dengan penetapan trayek resmi.
Pemerintah daerah dan otoritas perhubungan diharapkan dapat melakukan kajian ulang untuk memastikan terminal tetap memiliki fungsi strategis dalam sistem transportasi Kota Semarang, sehingga tidak menjadi infrastruktur yang kurang termanfaatkan. Penulis. (Ashadi).













