Kendal- Sebanyak 260 ribu pohon ditargetkan menghijaukan lahan seluas 650 hektare di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri, Kabupaten Kendal. Penanaman ini ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan dan dilanjutkan pemeliharaan selama tiga tahun.
Program rehabilitasi DAS Bodri itu ditandai dengan penanaman pohon di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kendal, Selasa (8/9/2026). Rehabilitasi tersebar di sejumlah blok, yakni Wonosari, Sukodadi, Singorojo, dan Kaliputih.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan fungsi ekologis DAS sekaligus mengurangi risiko bencana. Sebab, Kendal memiliki wilayah dengan ancaman bencana yang beragam, mulai dari rob, banjir hingga tanah longsor.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari menegaskan penanaman pohon tidak boleh sekadar menjadi seremoni. Menurutnya, rehabilitasi hutan dan DAS merupakan investasi lingkungan untuk masa depan.
“Harapan kita, kegiatan penanaman pohon ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan investasi untuk kita bersama di masa depan dan warisan berharga bagi generasi yang akan datang,” tegasnya.
Dia menyebut keberadaan pohon memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan iklim. Selain menjaga keseimbangan ekosistem, pepohonan berfungsi mencegah erosi, menjaga kualitas udara dan membantu mempertahankan ketersediaan air tanah.
“Kendal secara geografis memiliki potensi bencana yang lengkap. Di wilayah pesisir ada rob, dataran rendah rawan banjir, sedangkan di dataran tinggi terdapat potensi longsor,” ujarnya.
Manajer K3 Lingkungan dan Keamanan PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah, Yeni B. Arianto, mengatakan rehabilitasi DAS Bodri dilakukan di lahan seluas 650 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 260 ribu pohon akan ditanam. PLN menargetkan seluruh proses penanaman selesai dalam dua bulan.
“Hari ini kita melaksanakan seremonial penanaman rehabilitasi DAS Bodri. Dari total luasan 650 hektare, kurang lebih ada 260 ribuan pohon yang nantinya akan kami tanam. Kami targetkan dalam dua bulan ke depan penanaman ini selesai,” ujar Yeni.
Pohon yang ditanam terdiri atas tanaman tegakan dan tanaman buah. Sengon dan jabon disiapkan sebagai tanaman tegakan, sedangkan durian, nangka, dan rambutan menjadi tanaman buah untuk tumpangsari.
Khusus di Blok Wonosari, rehabilitasi mencakup sekitar 214 hektare. Dengan komposisi 400 tanaman tegakan per hektare, diperkirakan ada sekitar 85.600 pohon tegakan yang ditanam.
Tak hanya mengejar fungsi konservasi, program ini juga diarahkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Tanaman buah yang ditanam diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan warga setelah memasuki masa produksi.
PLN menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah untuk membantu membuka akses pemasaran melalui offtaker.
“Kami akan bantu implementasi ke offtaker, sehingga harapannya masyarakat tidak kesulitan menyalurkan atau menjual hasil tanaman buah-buahan,” kata Yeni.
PLN memastikan rehabilitasi tidak berhenti setelah bibit masuk ke tanah. Pemeliharaan tanaman akan dilakukan secara berkala selama tiga tahun. Pemeliharaan dijadwalkan berlangsung mulai 2026 hingga 2029. Setelah itu, akan dilakukan penilaian dan proses serah terima dengan kementerian terkait.
“Pemeliharaan kami lakukan selama tiga tahun ke depan, mulai 2026 sampai 2029. Setelah itu kami berkoordinasi dengan kementerian untuk melaksanakan penilaian dan serah terima,” jelasnya.
Kepala BPDAS Pemali Jratun, Aris Setia Utomo, mengatakan rehabilitasi DAS Bodri merupakan kewajiban PLN sebagai pemegang Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH). Kewajiban tersebut muncul karena PLN menggunakan kawasan hutan untuk pembangunan jaringan transmisi. Sebagai kompensasi, PLN wajib melakukan rehabilitasi kawasan hutan dengan luasan yang sesuai.
“Kalau PLN menggunakan kawasan hutan untuk pembangunan transmisi dan luasannya sekitar 650 hektare, maka mereka punya kewajiban merehabilitasi kawasan hutan lain dengan luasan yang sesuai,” jelas Aris.
Aris menilai rehabilitasi DAS Bodri tidak hanya berkaitan dengan penanaman pohon. Pengelolaan kawasan juga harus melibatkan masyarakat sekitar. Di lokasi rehabilitasi terdapat tiga Kelompok Tani Hutan (KTH). Kelompok tersebut akan dilibatkan dalam pengelolaan kawasan bersama PLN.
“Masyarakat jangan hanya menjadi penonton. Mereka punya hak untuk mengelola kawasan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi,” tegas Aris.
Menurut Aris, tanaman berkayu memiliki fungsi penting dalam tata air. Vegetasi membantu menahan air hujan agar tidak langsung mengalir deras ke wilayah hilir. Air yang tertahan kemudian memiliki kesempatan lebih besar untuk meresap ke tanah. Kondisi ini penting untuk menjaga ketersediaan air, terutama saat musim kemarau.
“Dengan adanya tanaman dan pohon berkayu, air bisa tertahan dan masuk ke tanah. Ini juga bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk menjaga ketersediaan air saat musim kemarau,” ujarnya.
Penggunaan tanaman semusim seperti jagung juga akan dikurangi secara bertahap. Kawasan tersebut diarahkan lebih banyak ditanami tanaman keras dan buah untuk memperkuat fungsi konservasi.
“Kalau bisa, jagung secara bertahap kita kurangi sampai nol. Kita dorong tanaman keras agar tanah kembali subur dan tidak meningkatkan risiko banjir di wilayah bawah,” katanya.
Di tengah upaya pemulihan DAS, Pemkab Kendal juga mendorong realisasi pembangunan Bendungan Kalibodri. Bendungan tersebut dinilai strategis untuk memenuhi kebutuhan air, terutama seiring pesatnya perkembangan kawasan industri di Kendal. Selain untuk kebutuhan industri, bendungan diharapkan dapat mendukung irigasi dan pengendalian banjir.
Pemkab Kendal telah menyampaikan kebutuhan pembangunan Bendungan Kalibodri dalam audiensi dengan Bappenas. Pemerintah daerah berharap proyek tersebut kembali menjadi prioritas pemerintah pusat.
“Untuk pemenuhan kebutuhan air industri kami masih sangat membutuhkan ketersediaan air. Harapannya, Bappenas akan mendorong kementerian terkait agar prioritas pembangunan Kalibodri segera diwujudkan,” kata Bupati Kendal.
Menurutnya, pengelolaan DAS Kalibodri memiliki peran strategis, tidak hanya untuk menjaga sumber daya air tetapi juga mengendalikan erosi dan mengurangi risiko banjir.
“Bumi ini bukan warisan nenek moyang kita, tetapi titipan untuk anak cucu kita. Kewajiban kita adalah terus menjaga dan merawatnya agar anak cucu kita nantinya tetap bisa menikmati,” tandasnya.
Pewarta : Tim/ Red













