Plantungan, Kendal – Upaya memperkuat keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui pemanfaatan teknologi digital terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UPGRIS Berdampak Kelompok 64 Desa Wadas, Kecamatan Plantungan, 23/08/2026.
Pada 10 Agustus 2026, mahasiswa KKN Kelompok 64 memperkenalkan program “Opak Go Digital” dengan mendampingi UMKM opak milik Ibu Nuripah, pelaku usaha rumahan yang telah menjalankan produksi opak selama kurang lebih 15 tahun.
Program tersebut menjadi langkah mahasiswa untuk membantu memperluas pemasaran produk tradisional Desa Wadas melalui sejumlah platform digital, di antaranya Google Maps, TikTok, dan WhatsApp. Pemanfaatan platform tersebut diharapkan membuat produk opak Ibu Nuripah lebih mudah ditemukan, dikenal, sekaligus dipesan oleh konsumen dari luar wilayah desa.
Selama ini, usaha opak Ibu Nuripah masih dikelola secara sederhana dari rumah. Seluruh proses produksi dilakukan sendiri tanpa tenaga karyawan dan disesuaikan dengan jumlah pesanan yang masuk.
Dalam kondisi normal, Ibu Nuripah mengolah sekitar 10 hingga 15 kilogram singkong per hari. Namun, ketika pesanan meningkat, bahan baku yang diolah dapat mencapai sekitar 25 kilogram.
Proses produksi dimulai sejak pagi hari. Singkong biasanya direbus sekitar pukul 05.00 WIB selama kurang lebih dua jam. Setelah matang, singkong diolah menjadi adonan opak, kemudian dicetak dan dijemur hingga siap diambil oleh pelanggan.
Bahan utama yang digunakan cukup sederhana, yakni singkong dan garam. Untuk memenuhi permintaan tertentu, Ibu Nuripah juga menyediakan varian dengan tambahan bumbu seperti bawang dan ketumbar. Sementara produk yang paling umum diproduksi dan dipasarkan sehari-hari adalah opak original.
Meski pemasaran masih dilakukan dari rumah, produk opak tersebut ternyata telah memiliki pelanggan dari berbagai daerah. Selain konsumen di sekitar Desa Wadas, pesanan juga datang dari Karanganyar, Ngesrep, hingga Jakarta.
Kualitas rasa dan harga yang terjangkau menjadi salah satu alasan pelanggan tetap memilih produk tersebut. Kepala Dusun Jetis, salah satu pelanggan, mengaku telah berulang kali membeli opak buatan Ibu Nuripah.
“Opaknya enak dan harganya murah, jadi saya sering pesan dan sudah menjadi langganan di opak Ibu Nuripah,” ungkapnya.
Melalui Opak Go Digital, mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 64 tidak hanya membantu promosi produk, tetapi juga memberikan pendampingan agar pelaku UMKM mulai terbiasa memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari strategi pemasaran.
Kehadiran usaha Ibu Nuripah yang telah bertahan selama belasan tahun dinilai menjadi potensi ekonomi lokal yang perlu terus dikembangkan. Digitalisasi diharapkan mampu menjembatani produk tradisional dengan konsumen yang lebih luas tanpa menghilangkan karakter dan cita rasa khas yang selama ini dipertahankan.
Mahasiswa KKN Kelompok 64 berharap program tersebut dapat menjadi langkah awal bagi UMKM di Desa Wadas untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dengan pemasaran yang lebih luas, usaha opak Ibu Nuripah diharapkan mampu berkembang, memiliki lebih banyak pelanggan, sekaligus turut mengangkat potensi produk lokal Desa Wadas ke tingkat yang lebih luas.
Pewarta : Tim / Red













