SEMARANG – Semangat merawat ingatan sejarah dan memperkuat jati diri bangsa melalui seni rupa ditunjukkan pelukis Hartono dengan menggelar Pameran Tunggal Lukisan bertajuk “Jas Merah” di kawasan Taman Budaya Raden Saleh, Jalan Sriwijaya, Kota Semarang.
Pameran yang berlangsung hingga 30 Juni 2026 tersebut menampilkan delapan karya yang terinspirasi dari sosok Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Messy Widiastuti dengan menabuh kentongan sebanyak tiga kali, sebagai simbol dimulainya pameran yang menjadi bagian dari refleksi Bulan Bung Karno.
Pelukis Hartono mengungkapkan, bahwa tema “Jas Merah” dipilih bukan sekadar untuk mengenang sosok Bung Karno, tetapi juga sebagai sarana edukasi kepada masyarakat, agar tidak melupakan sejarah bangsa.
“Bulan Juni dikenal sebagai Bulan Bung Karno karena menjadi bulan kelahiran, wafatnya Bung Karno, sekaligus lahirnya Pancasila. Melalui pameran ini saya ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami kembali nilai-nilai perjuangan, nasionalisme dan semangat kebangsaan yang diwariskan Bung Karno. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, karena dari sejarah kita belajar membangun masa depan,” ungkapnya, Sabtu malam (20/6).
Pelukis yang sebelumnya berkarier sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tersebut, telah aktif mengikuti pameran seni rupa sejak dekade 1980-an, baik di dalam maupun luar negeri. Setelah memasuki masa purnatugas, Hartono semakin produktif berkarya dan rutin menggelar pameran tunggal. Sejak tahun 2016 hingga 2026, pameran “Jas Merah” menjadi pameran tunggal ke-20 yang diselenggarakannya.
Delapan lukisan yang dipamerkan, yakni Jas Merah (2018), Jati Diri (2018), Sang Fajar (2021), Marhaen (2021), Lost Stories (2021), Boeng Ajo Boeng (2022), Sang Pamomong (2022), dan Sigrak (2025), menghadirkan interpretasi artistik atas gagasan, perjuangan, dan nilai-nilai yang diperjuangkan Bung Karno.
Menurut Hartono, seni memiliki peran penting sebagai media advokasi budaya yang mampu menjembatani sejarah dengan generasi masa kini.
“Lukisan bukan hanya karya estetika, tetapi juga sarana menyampaikan pesan. Saya berharap karya-karya ini dapat menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya dan tetap berpegang pada jati dirinya,” jelasnya.
Pengamat budaya yang ditemui dalam pameran tersebut menilai, karya-karya Hartono menunjukkan kekaguman yang kuat terhadap Bung Karno. Hal itu tampak dari pemilihan tema, simbol serta narasi visual yang berupaya menghidupkan kembali gagasan-gagasan kebangsaan yang pernah disampaikan Sang Proklamator.
Pameran ini juga menjadi ruang edukasi publik, untuk memahami pentingnya belajar sejarah (learning history) dan belajar dari sejarah (learning from history). Di tengah berbagai tantangan kebangsaan, penguatan nilai-nilai Pancasila, persatuan dan identitas nasional dinilai tetap relevan sebagai fondasi menjaga integrasi bangsa.
Melalui pameran tunggal “Jas Merah”, Hartono tidak hanya menghadirkan karya seni, tetapi juga mengajak masyarakat melakukan refleksi budaya, mengenang perjalanan bangsa, serta meneguhkan kembali semangat nasionalisme yang diwariskan Bung Karno kepada generasi penerus Indonesia.
Caption : Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Messy Widiastuti menyerahkan kentongan kepada Pelukis Hartono usai membuka pameran, Sabtu (20/6). Foto : Absa













