banner 728x250

Turun ke Desa, 8 Mahasiswa Tadris IPS UIN Sunan Kudus Siap “Melestarikan” Kearifan Lokal Rahtawu Selama 45

banner 468x60

KUDUS, Faktakuat.com – Udara sejuk khas lereng Gunung Muria di Desa Rahtawu, Gebog,
Kudus, tiba-tiba terasa lebih semarak, Pada hari Senin tanggal (15/062026). Sebanyak delapan mahasiswa
Program Studi Tadris IPS Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Sunan Kudus
resmi diterjunkan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata Merdeka Belajar Kampus Merdeka
(KKN MBKM). Mereka akan tinggal dan mengabdi selama 45 hari penuh di desa yang asri ini.


Acara pelepasan dan penyambutan berlangsung hangat di Aula Balai Desa Rahtawu. Hadir
perangkat desa, tokoh masyarakat, para pengurus lembaga desa, serta Dosen Pembimbing
Lapangan (DPL). Suasana akrab dan penuh kebersamaan terlihat sepanjang acara.
Misi Utama: Belajar dari Warga, Bukan Sok Tahu.

Example 300x600


Pada kesempatan tersebut
Ketua kelompok KKN, Noor Saidatul Hidayah—yang akrab disapa Saidah—dengan rendah
hati menyampaikan bahwa,” rombongannya datang bukan untuk menggurui. Mereka justru ingin
menimba ilmu dari pengalaman warga setempat.

“Kami mohon doa restu dan bimbingan dari semuanya. Selama 45 hari ke depan, semoga kami
bisa memberi energi positif untuk Rahtawu. Bukan sebaliknya,” ujar Saidah dengan senyum
teduh.

Dosen Pembimbing Lapangan, Dany Miftah M. Nur, M.Pd., juga menambahkan nasihat
penting. Menurutnya, KKN bukan sekadar formalitas, tapi ajaran untuk membangun manusia
seutuhnya. “Desa itu butuh lebih dari sekadar jalan atau jembatan. Yang terpenting adalah
membangun jiwa sosial, semangat gotong royong, dan memberdayakan warganya. Pakai ilmu
kalian, tapi jangan sok tahu. Dengar dulu apa yang sebenarnya Rahtawu butuhkan,” pesan Dany.

Sambutan Manis dari Warga Lereng Muria
Mewakili Pemerintah Desa Rahtawu, Sekretaris Desa Agung Darmono, S.Pd., mengaku senang
dan terbuka dengan kehadiran mahasiswa. Ia berharap anak-anak muda ini bisa membawa
perubahan yang selaras dengan nilai-nilai lokal yang sudah mendarah daging di Rahtawu—
terutama soal spiritualitas dan menjaga alam Muria.

Selamat datang, adik-adik. Kami siap mendukung. Semoga ilmu yang kalian dapat di bangku
kuliah bisa benar-benar bermanfaat untuk warga kami,” ujar Agung hangat.
45 Hari: Bukan Sekadar Tinggal, tapi Menjadi Bagian dari Rahtawu
Dengan resmi diterima, delapan mahasiswa Tadris IPS ini langsung memulai tugas
pengabdiannya. Selama 45 hari, mereka akan berbaur, membantu aktivitas warga, menggali
potensi desa, dan menjalankan program-program yang sudah disiapkan—dengan catatan:


semua harus berbasis kebutuhan warga, bukan keinginan mahasiswa semata.
Desa Rahtawu memang istimewa. Dikenal sebagai desa di kaki Gunung Muria, tempat ini


punya banyak petilasan keramat, mata air yang melimpah, serta tradisi menjaga hutan yang


turun-temurun. Kehadiran mahasiswa diharapkan bisa ikut nguri-uri (melestarikan) kearifan
lokal tersebut, sekaligus membawa angin segar inovasi tanpa meninggalkan akar budaya.

(BANU ABILOWO)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *