GROBOGAN, Faktakuat.com – Melaksanakan Ritual lakukan Lari Mengintari (Nyiwer) Kediaman Kepala Desa Tajemsari dengan membawa Pecut bagai seorang penggembala domba yang mengejar hewan piaraannya yang berlarian jauh supaya berjalan sesuai arah yang dituju oleh pangonnya.
Adegan tersebut terlihat dalam Rangka Sedekah Bumi (Apitan) yang digelar di Desa Tajemsari Kecamatan Tegowanu Kabupaten Grobogan Jawa tengah, Pada hari Rabu Legi tanggal (29/04/2026) pukul 12.00 wib siang.
Hadir dalam acara tersebut Drs Pujianto Kades Tajemsari beserta istri, Sekdes Tajemsari Mashadi beserta istri,Kadus Tajemsari 1 Kristiandoko , Kadus 2 Mlangi Plosorejo Muslikin, semua Perangkat Desa Tajemsari, BPD, Ketua RT/RW , Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa Tajemsari, Tokoh Agama maupun tokoh masyarakat dan Warga masyarakat Desa Tajemsari.
Tradisi Sedekah Bumi (apitan) yang ada di Desa Tajemsari adalah ritual adat yang berlangsung secara turun temurun di wilayah Desa tersebut.
Doa syukur dan Bancaan yang di gelar di 3 tempat yakni di Dusun Plosorejo, Mlangi dan Di kediaman Kepala Desa Tajemsari.
Untuk Ritualnya dimulai sebelum Doa & syukuran bancaan atau kepung makan bersama Warga masyarakat Desa Tajemsari membawa nasi dengan lauk berupa Ingkung Ayam Kampung di kepung bersama,
Diawali saat Kamituo Muslikin Tajemsari memohon ijin kepada Lurah Drs.Pujianto untuk melakukan ritual berlarian kejar kejaran perangkat lain dengan membawa Pecut berlari mengitari kediaman Kepala Desa (Nyiwer) selama 3 kali putaran di ikuti bersama perangkat dengan membawa kendi berisi air suci di kucurkan sepanjang perjalanan memutar.
Kamituo Muslikin dengan membawa pecut giring Perangkat Desa mengintari kediaman kepala desa sebanyak 3 kali putaran sebagai bentuk selaku Pinatua Desa selalu Angkrungkepi Desa dengan menjalankan roda pemerintahan agar lancar aman dan selalu dalam lindunganNya, Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai ungkapan syukur bagi para warga masyarakat atas kemurahan yang telah diberikan oleh Alloh SWT
dan dengan melaksanakan kegiatan tradisi pagelaran wayang kulit tersebut para warga berharap bahwa kemakmuran dan keselamatan hidup pada tahun berikutnya akan tetap terjaga.
Pelaksanaan kegiatan Sedekah Bumi (apitan) di Desa Tajemsari senantiasa ditandai dengan melaksanakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Menurut istilah Jawa apitan nampaknya berasal dari kata apit =gapit atau jepit; dalam hal ini terkait dengan karakteristik wayang kulit yang kehadirannya senantiasa dijepit oleh garan atau tangkai, yang biasanya dibuat dari bambu atau tanduk kerbau. Dengan begitu maka tradisi apitan tersebut diidentikan dengan pagelaran wayang kulit.
Untuk Pagelaran wayang kulit di desa Tajemsari mengangkat lakon ”KEMBANG TERATAI” untuk malam hari dibawakan oleh dalang Ki Sigit Ariyanto dari Rembang bersama group Karawitan Cakraningrat.
Pagelaran wayang kulit merupakan sebuah kesenian yang dapat dinikmati oleh semua umur. Tidak hanya sebagai sebuah kesenian semata, tetapi juga sebagai suatu hiburan tersendiri dengan berbagai macam cerita yang dipertontonkan melalui setiap wayang kulit yang digunakan.
Kepada Awak Media Drs Pujianto
Kepala Desa Tajemsari menyampaikan bahwa ,”Kegiatan Sedekah Bumi (Apitan) ini sebagai tradisi budaya bentuk penghormatan pada para leluhur desa kami yang telah melakukan secara turun-menurun setiap tahun, sebagai bentuk rasa syukur atas kelimpahan rejeki dari Alloh SWT yang telah memberikan kenikmatan, kelapangan rejeki dan keselamatan warga desa kami serta sekaligus sebagai momen kerukunan dan kebersamaan warga”. Ungkap Drs Pujianto Kades Tajemsari di sela- sela kegiatan tersebut.
Kades Tajemsari Drs.Pujianto berharap, Budaya Tradisi seperti ini harus kita lestarikan, selain sebagai bentuk rasa syukur kita pada Yang Maha Kuasa juga sebagai ajang bersilaturahmi bagi warga karena ini hajat untuk semua warga masyarakat Desa Tajemsari Kecamatan Tegowanu,” Katanya.
(Reporter:BANU ABILOWO).













